Senin, 23 Mei 2022

SOAL LITERASI 37 -- 39

 

Bacalah penggalan kisah berikut dengan saksama!

Sepenggal Kisah dari Antartika

 


Kulihat makanan yang disajikan Rera.  Perutku bergejolak. Kentang rebus, sayur rebus, salmon rebus. Sungguh, aku merindukan nasi padang, bahkan sate kambing. Tetapi, ini Antartika, kawasan Kutub  Selatan di  mana matahari bersinar sepanjang hari. Sejauh mata memandang hanya hamparan es yang memutih, dengan sedikit batuan hitam yang luput terselimuti. Sekitar 90 persen es dunia atau sebanyak 29 juta km kubik terperangkap di sini. Yang jelas, di sini hanya ada makanan-makanan kering dan beku.

 “Kangen makanan rumah?” tanya Rera. “Nanti malam kubuatkan nasi goreng atau kupanaskan rendang dari kotak perbekalan kita.”

Ini hari pertama kami di Vinson Base Camp, titik awal pendakian menuju puncak Vinson Massif. Sayang, angin kencang menyambut kedatangan kami di benua terkering dan terdingin ini. Untuk sementara, kami belum bisa melanjutkan perjalanan ke kem berikutnya. Antartika memang merupakan tempat paling dingin dan berangin di dunia. Suhu -40 derajat Celsius sudah biasa. Di musim dingin, suhu bisa mencapai -90 derajat Celsius.

Makanya, kami harus memakai empat sampai lima lapis pakaian.

Aku merasa beruntung, ada Rera di tim ekspedisi ini. Hampir selalu dia yang  menyiapkan makanan dan minuman untuk kami bertiga: aku, Rera, dan Max. Sering aku dan Max mencoba mengambil alih. Tetapi, Rera selalu menolak.

Rera memanaskan sebongkah es dengan kompor khusus. Di Antartika yang beku ini, tidak ada air ataupun sumber air. Untuk memasak, kami harus menjerang bongkahan es.

Es mulai mencair. Air pun mendidih. Dengan cekatan Rera menuangnya ke  botol, lalu membuatkan teh  panas. Ini harus dilakukan dengan cepat. Kalau tidak, air panas keburu dingin dan beku kembali.

Rera cepat-cepat membereskan peralatan memasaknya. Peralatan memasak tidak boleh diletakkan sembarangan, melainkan harus dialasi dengan matras supaya tidak melekat dengan es. Termos air pun harus diselimuti bahan matras supaya isinya tidak berubah menjadi bongkahan es.

Tiba-tiba Max berseru, “Kunto, lihat ini!”

Max menunjukkan kaleng bekas salmon. “Sudah kedaluwarsa lima tahun yang lalu!”

Rera tertawa. “Antartika itu kulkas abadi, apa saja awet di sini. Hukum kedaluwarsa tidak berlaku.”

Hari kedua cuaca mulai membaik. Sepertinya besok kami bisa melanjutkan perjalanan. Matahari mulai tertutup pegunungan. Artinya, malam tiba, meskipun di luar tetap terang. Kami harus beristirahat.

Namun, kulihat Rera malah duduk termenung. “Kenapa?” tanyaku. Mata Rera agak sembab. Hei, anak yang selalu terlihat riang itu menangis?

 “Berceritalah. Mungkin bisa melegakan,” ucapku.

Rera berusaha tersenyum. “Tiba-tiba aku ingat Ibu. Ibu yang paling bersemangat mendukungku untuk ikut ekspedisi ini. Ibu yang mengajariku berbagai hal tentang bertahan hidup di alam. Ibuku dulu juga seorang pendaki gunung.”

Lalu, Rera bercerita tentang ibunya. Aku tekun mendengarkan. Sesekali dia mengusap air mata rindu yang menitik. Hmm, pantas Rera terlihat begitu cekatan dan bersemangat. Rupanya ada seorang Ibu tangguh yang menjadi penopangnya.

 “Ah, terima kasih sudah menjadi teman bercerita. Yuk, istirahat! Besok kita lanjutkan perjalanan menaklukkan Antartika. Semangat!” ucap Rera sambil tertawa.

Aku lega. Keriangan Rera sudah kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAHASA INGGRIS NOMER 26-30

  Text for number 26-30   Turn to you ( Mother’s Day Dedication ) Justin Bieber You worked two jobs   To keep a roof up over our head...