Bacalah
penggalan kisah berikut dengan saksama!
Sepenggal Kisah dari Antartika
Kulihat makanan yang disajikan Rera. Perutku
bergejolak. Kentang rebus, sayur rebus, salmon rebus. Sungguh, aku merindukan
nasi padang, bahkan sate kambing. Tetapi, ini Antartika, kawasan Kutub Selatan di mana
matahari bersinar sepanjang hari. Sejauh mata memandang hanya hamparan es
yang memutih, dengan sedikit batuan hitam yang
luput terselimuti. Sekitar 90 persen es dunia
atau sebanyak 29 juta km kubik terperangkap di sini. Yang jelas, di sini hanya ada makanan-makanan kering dan beku.
“Kangen makanan rumah?” tanya Rera. “Nanti
malam kubuatkan nasi goreng atau kupanaskan rendang dari kotak perbekalan
kita.”
Ini
hari pertama kami di Vinson Base Camp, titik awal pendakian menuju puncak
Vinson Massif. Sayang, angin kencang menyambut kedatangan kami di benua
terkering dan terdingin ini. Untuk sementara, kami belum bisa melanjutkan
perjalanan ke kem berikutnya. Antartika memang merupakan tempat paling dingin
dan berangin di dunia. Suhu -40 derajat Celsius sudah biasa. Di musim dingin,
suhu bisa mencapai -90 derajat Celsius.
Makanya, kami harus memakai empat sampai
lima lapis pakaian.
Aku
merasa beruntung, ada Rera di tim ekspedisi ini. Hampir selalu dia yang menyiapkan
makanan dan minuman untuk kami bertiga: aku,
Rera, dan Max. Sering aku dan
Max mencoba mengambil alih. Tetapi,
Rera selalu menolak.
Rera
memanaskan sebongkah es dengan kompor khusus. Di Antartika yang beku ini, tidak
ada air ataupun sumber air. Untuk memasak, kami harus menjerang bongkahan es.
Es
mulai mencair. Air pun mendidih. Dengan cekatan Rera menuangnya ke botol, lalu
membuatkan teh panas. Ini
harus dilakukan dengan cepat. Kalau tidak, air panas keburu dingin dan beku kembali.
Rera
cepat-cepat membereskan peralatan memasaknya. Peralatan memasak tidak boleh
diletakkan sembarangan, melainkan harus dialasi dengan matras supaya tidak
melekat dengan es. Termos air pun harus diselimuti bahan matras supaya isinya
tidak berubah menjadi bongkahan es.
Tiba-tiba Max
berseru, “Kunto, lihat ini!”
Max menunjukkan
kaleng bekas salmon. “Sudah kedaluwarsa lima tahun yang lalu!”
Rera tertawa.
“Antartika itu kulkas abadi, apa saja awet di sini. Hukum kedaluwarsa tidak
berlaku.”
Hari
kedua cuaca mulai membaik. Sepertinya besok kami bisa melanjutkan perjalanan.
Matahari mulai tertutup pegunungan. Artinya, malam tiba, meskipun di luar tetap
terang. Kami harus beristirahat.
Namun,
kulihat Rera malah duduk termenung. “Kenapa?” tanyaku. Mata Rera agak sembab.
Hei, anak yang selalu terlihat riang itu menangis?
“Berceritalah. Mungkin bisa melegakan,”
ucapku.
Rera
berusaha tersenyum. “Tiba-tiba aku ingat Ibu. Ibu yang paling bersemangat
mendukungku untuk ikut ekspedisi ini. Ibu yang mengajariku berbagai hal tentang
bertahan hidup di alam. Ibuku dulu juga seorang pendaki gunung.”
Lalu,
Rera bercerita tentang ibunya. Aku tekun mendengarkan. Sesekali dia mengusap
air mata rindu yang menitik. Hmm, pantas Rera terlihat begitu cekatan dan
bersemangat. Rupanya ada seorang Ibu tangguh yang menjadi penopangnya.
“Ah, terima kasih sudah menjadi teman
bercerita. Yuk, istirahat! Besok kita lanjutkan perjalanan menaklukkan
Antartika. Semangat!” ucap Rera sambil tertawa.
Aku lega. Keriangan
Rera sudah kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar