Bacalah
dengan saksama!
Bravo, Netta!
'Apa
yang kau lihat, Netta?” Tepukan bahu itu mengagetkan
Netta. Dia menolehkan kepala dan
melihat sebaris gigi putih berjajar
menyunggingkan senyum.
“Oma, mengejutkan saja,” balasnya sambil
mengalihkan pandangan ke laut lepas. Ia tak mau Oma mengetahui kekhawatiran
yang ia rasakan. Oma selalu bisa membaca jalan pikirannya. Netta menghela napas
panjang.Angin laut menari-narikan rambutnya yang panjang tergerai.
“Netta, perhatikan
burung itu,”
ucap Oma sambil menunjuk burung gannet yang
sedang mengamati target ikan di bawah
laut. Kemudian, ia terbang cepat,
menyelipkan kedua sayapnya hingga
lurus, dan menukik tajam ke dalam laut. Kami menunggu hingga burung itu kembali melesat ke udara. Kemudian, burung itu berkumpul dengan koloninya. Menarik diamati ketika hati sedang menari,
tapi Netta sedang kacau. Bahkan, sekumpulan burung gannet bulu berwarna putih
dengan ujung sayap berwarna hitam,
paruh berwarna kebiru-biruan muda dan mata berwarna biru muda pun tak membuat Netta terpikat.
“Kau tahu, Netta.
Burung gannet hanya mau makan ikan sarden yang berada
di laut dalam. Tentunya ia butuh perjuangan untuk mencapainya. Apa ia malas menyelam hingga kedalaman sepuluh meter?
Tidak kan? Kau lihat bagaimana ia terjun ke dalam laut, tentunya
dengan kecepatan penuh dan ia tetap melakukannya,”
Oma melirik Netta yang masih memainkan beberapa helai rambutnya.
“Setiap makhluk punya keistimewaan. Tuhan
telah merancang dengan sebaik-baiknya, tinggal kita mampu atau tidak
memanfaatkannya,” itu lagi yang dibahas Oma. Andai saja hidup itu semudah
burung yang memang ditakdirkan bisa terbang.
“Netta, coba ingat
lagi. Kau
sudah sejauh ini melangkah, meninggalkan negerimu untuk meraih
cita-citamu.
Jangan patah arang di tengah
jalan, Sayang,” Oma memang bukan
saudaraku, hanya orang tua asuh selama
aku kuliah di Benua Eropa ini. Ya, sudah dua kali presentasinya ditolak Prof. Smith.
Materi itu sudah ia
kerjakan selama dua bulan dengan hasil riset yang nggak
kacangan.
“Oma, aku harus bagaimana?” akhirnya Netta
buka suara.
“Oma tahu sendiri. Netta bolak-balik cari
data, melakukan beberapa percobaan, bahkan sudah uji coba. Netta nggak tahu
salahnya di mana?” tangis Netta pecah. Bulir-bulir itu pun menderas, bahunya
berguncang hebat. Oma pun menyandarkan kepala Netta ke bahunya.
“Jalan tak selamanya
lurus dan mulus. Kadang ada tikungan, jalan menurun, berlubang, atau ada
beberapa kerikil. Namun, ketika belum sampai
tujuan bukankah para pengemudi masih
melajukan kendaraannya hingga ke
lokasi yang dituju?” kata Oma menenangkan Netta.
“Netta, pelajari sekali lagi. Lihat catatan
Prof. Smith, revisi, dan hadapi dia. Yakinlah pada kemampuan dan proses yang
sudah kau lakukan,” Oma menggandeng Netta pulang. Beberapa burung gannet masih
beradu di udara dan kembali melakukan atraksi rudalnya. Mereka tak pernah
berhenti melakukannya berulang-ulang.
Penulis: Diah Erna

Tidak ada komentar:
Posting Komentar