Kamis, 26 Mei 2022

BAHASA INGGRIS NOMER 26-30

 

Text for number 26-30 

Turn to you ( Mother’s Day Dedication )

Justin Bieber

You worked two jobs
 To keep a roof up over our heads
You chose life for me
No, you never gave up
I admire you for the strength you've instilled in me

You were so young
You were just my age when you had me
Mom, you were so brave
There was nothing gonna stop or get in our way
And I know you will always be there for me

So when you're lost and you're tired
When you're broken in two
Let my love take you higher
'Cause I, I still turn to you
I still turn to you
I still turn to you

It was ninety – four
The year that everything started to change
From before, you had to be a woman
You were forced to change your ways
To change your ways

You found the Lord
You gave your life to Him
And you could not ignore
The love He had for you
And how He wanted more of your heart

So when you're lost and you're tired
When you're broken in two
Let my love take you higher
'Cause I, I still turn to you

I don't know what I'd do if you left me
So please don't go away
Everything that you are is who I am
Who I am today, oh, oh, oh

So when you're lost and you're tired (when you're lost, you're tired)
When you're broken in two (in two)
Let my love take you higher (you higher)
'Cause I, I still turn to you (I, to you, to you)
I still turn to you (to you, to you, to you)
I still turn to you (to you, to you, to you)
I still turn to you
I still turn to you (yeah, yeah)

'Cause I, I turn to you

BAHASA INGGRIS KELAS XI 1-8

 Text for number 1-8

Butterfly Metamorphosis

Butterflies go through a life cycle. A butterfly has four stages in its life cycle. Each stage is different. Each stage also has .a different goal. A butterfly becoming an adult is called metamorphosis. The life cycle process can take a month to year. It depends on the type of butterfly.

In the first stage a girl butterfly lays eggs. A butterfly first starts out as an egg. A girl butterfly lays the eggs on a leaf. She lays the eggs really close together. The eggs are really small and round. About five days after the eggs are laid a tiny worm-like creature will hatch from the egg.

The second stage is the caterpillar. A caterpillar is sometimes called larva. A caterpillar is a long creature. It looks like a worm. Most caterpillars have a cool pattern. This pattern has stripeS or patches. The caterpillar is hungry once it has, hatched. It starts to eat leaves and flowers. It eats these all the time. It first eats the leaf that it was born on. This is the eating and growing stage.

A caterpillar grows really fast. This is because they eat a lot. A caterpillar is really small when it is born. It starts to grow-fast. This is because it eats all the time. ft grows so fast that it becomes too big for its skin. So the caterpillar has to shed its old skin. It then gets new skin. Caterpillars shed their skin four or more times while they are growing. A caterpillar shedding its outgrown skin is called molting.

Stage three is the chrysalis (pupa). This is when the caterpillar is done growing. The caterpillar makes a chrysalis. Another name for a chrysalis is a pupa. It is mostly browri or green. It is the same color as the things around it. Things like the trees, leaves, or branches. This is so that other animals cannot see it. This protects them. This keeps them from getting hurt.

In stage four, the chrysalis opens. Soon a butterfly comes out. A butterfly is sometimes called an imago.. It is also called an adult. Butterflies are very colorful. When the butterfly

first comes out its wings are damp. The wings are also soft. The wings are folded against its body. The butterfly is also very tired. So the butterfly rests.

Once the butterfly has rested, it will be ready to start flying. It will start to pump blood into its. wings. This is to get them working and flapping. After it does this, it can now learn to fly. Butterflies cannot fly good at first. They need a lot of practice. It does not take long for them to earn. They learn fast. When it can fly, it will go ook for food. The butterfly will also go look for a mate. It will soon find a mate. It will then lay aggs. The lifecycle will start all over again.

Selasa, 24 Mei 2022

SOAL NUMERASI 1-4

 

Teks 1 : Perjalanan Jakarta-Karanganyar (soal no. 1-4)

Beni adalah mahasiswa pecinta alam disalah satu universitas di Jakarta. Beni berencana untuk naik gunung Bersama dua temannya, Edo dan Zain. Mereka memutuskan untuk naik ke gunung Lamu di daerah Karanganyar, Jawa tengah. Dari Jakarta, mereka naik mobil Beni yang memiliki kapasitas tanki bensin 45 liter. Jarak Jakarta-Karanganyar 560 km. agar perjalanan dengan lancar, mereka merencanakan lokasi-lokasi pemberhentian untuk beristirahat mengisi bensin.

            Tiba dihari keberangkatan, ternyata indicator bensin mobil Beni mati. Kemudian Beni dan teman-temannya membuat estimasi persediaan bensin dengan jarak yang ditempuh agar mereka dapat memperkirakan dimana mereka harus berhenti sebelum bensinya habis.

Berikut adalah grafik estimasi penggunaan bensin pada mobil Beni.

            Dari Jakarta, Beni mengisi bensin mobilnya dengan kapasitas penuh. Mereka akan melalui tol Jakarta-Solo yang melewati Jakarta, Cikampek, Pemalang, Semarang, Salatiga dan Boyolali. Kemudian berlanjut ke Karanganyar dan menuju basecamp Cemoro Sewu.

Berikut tabel jarak kota-kota yang dilalui Beni dan teman-temannya.

Kota

Jarak

Jakarta-Pemalang

335 km

Jakarta-Semarang

445 km

Jakarta-Salatiga

480 km

Jakarta-Boyolali

515 km

Senin, 23 Mei 2022

SOAL LITERASI 47 - 50

 

Teks berikut untuk menjawab soal nomor 47 s.d. 50!

Laika Tertelan Bersama Bintang

            Kota Moskow pada musim dingin terasa menusuk tulang, aku berlari ke sana kemari untuk menghangatkan tubuh. Anjing tanpa tuan sepertiku memang bebas pergi ke manasaja. Tapi terkadang, jika musim dingin tiba, aku merindukan sebuah rumah.

          Suatu malam seorang lelaki membawaku ke sebuah gedung. Aku diperkenalkan pada banyak orang. Lantas mereka memanggilku Laika. Aku bahagia, setelah sekian lama akhirnya aku memiliki nama, dan nama itu terdengar merdu.

Mereka memeriksa tubuhku, lalu mengatakan aku terpilih karena aku terbiasa hidup di jalanan, bertahan pada kondisi dingin yang ekstrim dan terbiasa kelaparan.

Awalnya perasaanku tidak enak, tapi kemudian aku bertemu dengan dua kawan baru. Mereka dipanggil Muska dan Albina. Muska mengatakan kalau kami akan dilatih untuk pergi melihat bulan dan bintang-bintang. Oh, betapa menyenangkan! Hatiku jadi tenang.

Setiap hari aku dan teman-temanku dilatih untuk tinggal di ruang yang sangat kecil, hanya cukup untuk tubuh kami saja, lalu dilatih memakan makanan serupa agar-agar berbagai rasa.

Aku sering mendengar para pelatihku berbincang, kata mereka tabung tempatku ini disebut Sputnik II. Terbuat dari alumunium, tingginya 4 meter, beratnya 508,3 kg. Bentuknya mengerucut supaya nanti mudah melucur di angkasa. Sputnik II menggunakan telemetri trial D untuk nanti mengirim pesan. Aku suka mendengar istilah- istilah aneh yang mereka bicarakan.

Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan ruang yang sempit. Mereka memasang banyak peralatan, katanya itu adalah sensor-sensor untuk mengontrol tekanan dan suhu, juga untuk memantau diriku.

Pada tanggal 31 Oktober 1957 orang-orang yang merawatku memelukku. Wajah mereka tampak sendu, ada yang menangis, tapi ada juga yang tersenyum lebar mengucapkan kata-kata penyemangat.

Tiga hari kemudian tabung sempit yang aku tempati berguncang hebat, aku cemas sekali. Aku ingin melompat keluar tapi semua terkunci. Lalu aku pasrah, dan mengingat kata-kata Muska, bahwa aku akan segera melihat bulan dan bintang-bintang.

* Laika dinyatakan tewas 5-7 jam setelah peluncuran akibat kepanasan dan tertekan karena kenaikan suhu di dalam kabin. Sputnik II membawa jasad Laika beredar di luar angkasa selama 162 hari dan  membuat 2.750  orbit sebelum akhirnya jatuh pada 14 April 1958. Laika menutup matanya di antara bintang-bintang. Sputnik II dan Laika telah memberi data berharga bagi ilmu pengetahuan luar angkasa. 50 tahun kemudian pemerintah Rusia membangun monumen untuk mengenang Laika di pusat pelatihan kosmonot di dekat kota Moskow.



SOAL LITARASI 41-46

 

Bacalah dengan saksama!

Bravo, Netta!


                                  

'Apa yang kau lihat, Netta?” Tepukan bahu itu mengagetkan Netta. Dia menolehkan kepala dan melihat sebaris gigi putih berjajar menyunggingkan senyum.

 “Oma, mengejutkan saja,” balasnya sambil mengalihkan pandangan ke laut lepas. Ia tak mau Oma mengetahui kekhawatiran yang ia rasakan. Oma selalu bisa membaca jalan pikirannya. Netta menghela napas panjang.Angin laut menari-narikan rambutnya yang panjang tergerai.

 “Netta, perhatikan burung itu,” ucap Oma sambil menunjuk burung gannet yang  sedang mengamati target ikan di bawah laut. Kemudian, ia terbang cepat, menyelipkan kedua sayapnya hingga lurus, dan menukik tajam ke dalam laut. Kami menunggu hingga burung itu kembali melesat ke udara. Kemudian, burung itu berkumpul dengan koloninya. Menarik diamati ketika hati sedang menari, tapi Netta sedang kacau. Bahkan, sekumpulan burung gannet bulu berwarna putih dengan ujung sayap berwarna hitam, paruh berwarna kebiru-biruan muda dan mata berwarna biru muda pun tak membuat Netta terpikat.

 “Kau tahu, Netta. Burung gannet hanya mau makan ikan sarden yang berada di laut dalam. Tentunya ia butuh perjuangan untuk mencapainya. Apa ia malas menyelam hingga kedalaman sepuluh meter? Tidak kan? Kau  lihat bagaimana ia terjun ke dalam laut, tentunya dengan kecepatan penuh dan ia tetap melakukannya,” Oma melirik Netta yang masih memainkan beberapa helai rambutnya.

 “Setiap makhluk punya keistimewaan. Tuhan telah merancang dengan sebaik-baiknya, tinggal kita mampu atau tidak memanfaatkannya,” itu lagi yang dibahas Oma. Andai saja hidup itu semudah burung yang memang ditakdirkan bisa terbang.

 “Netta, coba ingat lagi. Kau sudah sejauh ini melangkah, meninggalkan negerimu untuk meraih cita-citamu.  Jangan patah arang di tengah jalan, Sayang,” Oma memang bukan saudaraku, hanya orang tua asuh selama aku kuliah di Benua Eropa ini. Ya, sudah dua kali presentasinya ditolak Prof.  Smith. Materi itu  sudah ia  kerjakan selama dua bulan dengan hasil riset yang nggak kacangan.

 “Oma, aku harus bagaimana?” akhirnya Netta buka suara.

 “Oma tahu sendiri. Netta bolak-balik cari data, melakukan beberapa percobaan, bahkan sudah uji coba. Netta nggak tahu salahnya di mana?” tangis Netta pecah. Bulir-bulir itu pun menderas, bahunya berguncang hebat. Oma pun menyandarkan kepala Netta ke bahunya.

 “Jalan tak selamanya lurus dan mulus. Kadang ada tikungan, jalan menurun, berlubang, atau ada beberapa kerikil. Namun, ketika belum sampai tujuan bukankah para pengemudi masih melajukan kendaraannya hingga ke lokasi yang dituju?” kata Oma menenangkan Netta.

 “Netta, pelajari sekali lagi. Lihat catatan Prof. Smith, revisi, dan hadapi dia. Yakinlah pada kemampuan dan proses yang sudah kau lakukan,” Oma menggandeng Netta pulang. Beberapa burung gannet masih beradu di udara dan kembali melakukan atraksi rudalnya. Mereka tak pernah berhenti melakukannya berulang-ulang.

Penulis: Diah Erna

SOAL LITERASI 37 -- 39

 

Bacalah penggalan kisah berikut dengan saksama!

Sepenggal Kisah dari Antartika

 


Kulihat makanan yang disajikan Rera.  Perutku bergejolak. Kentang rebus, sayur rebus, salmon rebus. Sungguh, aku merindukan nasi padang, bahkan sate kambing. Tetapi, ini Antartika, kawasan Kutub  Selatan di  mana matahari bersinar sepanjang hari. Sejauh mata memandang hanya hamparan es yang memutih, dengan sedikit batuan hitam yang luput terselimuti. Sekitar 90 persen es dunia atau sebanyak 29 juta km kubik terperangkap di sini. Yang jelas, di sini hanya ada makanan-makanan kering dan beku.

 “Kangen makanan rumah?” tanya Rera. “Nanti malam kubuatkan nasi goreng atau kupanaskan rendang dari kotak perbekalan kita.”

Ini hari pertama kami di Vinson Base Camp, titik awal pendakian menuju puncak Vinson Massif. Sayang, angin kencang menyambut kedatangan kami di benua terkering dan terdingin ini. Untuk sementara, kami belum bisa melanjutkan perjalanan ke kem berikutnya. Antartika memang merupakan tempat paling dingin dan berangin di dunia. Suhu -40 derajat Celsius sudah biasa. Di musim dingin, suhu bisa mencapai -90 derajat Celsius.

Makanya, kami harus memakai empat sampai lima lapis pakaian.

Aku merasa beruntung, ada Rera di tim ekspedisi ini. Hampir selalu dia yang  menyiapkan makanan dan minuman untuk kami bertiga: aku, Rera, dan Max. Sering aku dan Max mencoba mengambil alih. Tetapi, Rera selalu menolak.

Rera memanaskan sebongkah es dengan kompor khusus. Di Antartika yang beku ini, tidak ada air ataupun sumber air. Untuk memasak, kami harus menjerang bongkahan es.

Es mulai mencair. Air pun mendidih. Dengan cekatan Rera menuangnya ke  botol, lalu membuatkan teh  panas. Ini harus dilakukan dengan cepat. Kalau tidak, air panas keburu dingin dan beku kembali.

Rera cepat-cepat membereskan peralatan memasaknya. Peralatan memasak tidak boleh diletakkan sembarangan, melainkan harus dialasi dengan matras supaya tidak melekat dengan es. Termos air pun harus diselimuti bahan matras supaya isinya tidak berubah menjadi bongkahan es.

Tiba-tiba Max berseru, “Kunto, lihat ini!”

Max menunjukkan kaleng bekas salmon. “Sudah kedaluwarsa lima tahun yang lalu!”

Rera tertawa. “Antartika itu kulkas abadi, apa saja awet di sini. Hukum kedaluwarsa tidak berlaku.”

Hari kedua cuaca mulai membaik. Sepertinya besok kami bisa melanjutkan perjalanan. Matahari mulai tertutup pegunungan. Artinya, malam tiba, meskipun di luar tetap terang. Kami harus beristirahat.

Namun, kulihat Rera malah duduk termenung. “Kenapa?” tanyaku. Mata Rera agak sembab. Hei, anak yang selalu terlihat riang itu menangis?

 “Berceritalah. Mungkin bisa melegakan,” ucapku.

Rera berusaha tersenyum. “Tiba-tiba aku ingat Ibu. Ibu yang paling bersemangat mendukungku untuk ikut ekspedisi ini. Ibu yang mengajariku berbagai hal tentang bertahan hidup di alam. Ibuku dulu juga seorang pendaki gunung.”

Lalu, Rera bercerita tentang ibunya. Aku tekun mendengarkan. Sesekali dia mengusap air mata rindu yang menitik. Hmm, pantas Rera terlihat begitu cekatan dan bersemangat. Rupanya ada seorang Ibu tangguh yang menjadi penopangnya.

 “Ah, terima kasih sudah menjadi teman bercerita. Yuk, istirahat! Besok kita lanjutkan perjalanan menaklukkan Antartika. Semangat!” ucap Rera sambil tertawa.

Aku lega. Keriangan Rera sudah kembali.

SOAL LITERASI NOMER 34

 Pahami Soal Berikut!

 

WEKWEK
karya Iwan Simatupang

ADEGAN I
SEKELOMPOK BEBEK MEMASUKI PANGGUNG

Petruk: Sejauh mata memandang, sawah luas terbentang, tapi tidak sebidang tanah pun milikku. Padi aku yang tanam, juga aku yang ketam. Tapi tidak segenggam milikku. Bebek tiga puluh ekor, semuanya tukang bertelor. Tapi tidak juga sebutir adalah milikku. Badan hanya sebatang, hampir-hampir telanjang. Hanya itu saja milikku.

ADEGAN II
BAGONG DAN PENGAWALNYA MEMASUKI PANGGUNG

Bagong: Aku orang berada, apa-apa ada. Juga buah dada, itulah beta. Sawah berhektar-hektar, pohon berakar-akar, rumah berkamar-kamar, itulah nyatanya. Kambing berekor-ekor, bebek bertelor-telor, celana berkolor-kolor, film berteknik kolor. Perut buncit ada, mata melotot ada, pelayan ada, pokoknya serba ada.

ADEGAN III
GARENG DAN EMPAT KAWANNYA MEMASUKI PANGGUNG

Gareng: Badannya langsing, matanya juling, otaknya bening. That’s me!
Tipu menipu, adu mengadu, ijazah palsu, that’s me!
Gugat menggugat, sikat menyikat, lidah bersilat, that’s me!
Profesiku pokrol bambu, siapa yang tidak tahu, that’s me!

ADEGAN IV

Semar: Saya jadi lurah sejak awal sejarah, sudah lama kepingin berhenti tapi tak ada yang mau mengganti. Sudah bosan, jemu, capek, lelah. Otot kendor, mata kabur, mau mundur dengan teratur, mau ngaso di atas kasur.
Saya kembung bukan karena busung, mata berair bukan karena banjir, tapi karena menjadi tong sampah. Serobotan tanah, pak lurah. Curi air sawah, pak lurah. Beras susah, pak lurah.
Semua masalah, pak lurah, tapi kalau rejeki melimpah, pak lurah…tak usah…payah.

ADEGAN V
BAGONG DAN PENGAWALNYA MEMASUKI PANGGUNG

Bagong: Jaman ini jaman edan, tidak ikut edan tidak kebagian.
Di terminal calo berkuasa, dia tentukan penumpang naik apa.
Di dunia film broker merajalela, dia tentukan sutradara bikin apa.
Di sini, itu si Petruk sialan, datang merangkak meminta pekerjaan.
Aku suruh ngangon bebek tiga puluh ekor, tiap minggu harus antar lima puluh ekor.
Malah dia tentukan berapa harus setor. Sungguh-sungguh kurang telor.
Sekali aku datang mengontrol, bebeknya hilang dua ekor.
Waktu ditanya, dia menjawab “dimakan burung kondor”
Di sini tak ada burung kondor. Dia yang kondor.
Dia datang melolong minta tolong, sudah ditolong, ee…dia nyolong.
Orang seperti ini harus dipukuli, sayangnya aku tak berani.
Lagipula aku tidak mau mengotori tanganku, dengan menyentuh tubuhnya yang kotor dan bau. Aku tidak mau main hakim sendiri, apa gunanya pak lurah digaji.

BAHASA INGGRIS NOMER 26-30

  Text for number 26-30   Turn to you ( Mother’s Day Dedication ) Justin Bieber You worked two jobs   To keep a roof up over our head...